Disclaimer : Saya menulis disini sebagai perempuan yang saat ini berusia 20 something, almost 30 and i’m not generalize for all women in Indonesia. This story based on my personal experience.

Beberapa hari lalu, saya ketemu tetangga. Biasalaah.. grup mama muda sukanya kalo sore keluar rumah, gendong anak, ngobrol ama tetangga. Nah, saya si cuma sibuk menyiram rumput depan rumah. Maklum, masi belum ada yang digendong 🙂

Terus, diantara grup mama muda itu ada yang nanya ke saya

A (tetangga) : “Mbak, belom ya?”

B (saya) : “apanya”

A : “Belom isi ya?”

B: *mikir dalem hati.. ooh maksudnya hamil.. then saya jawab “Belom Bu, do’anya yaaa..” sambil senyum aja 🙂

A:”Loh kenapa? gamau punya ya?”

B:”hahaha.. ngga juga kok.. “

A:”Lho,, terus kenapa? Ini lho temen mainnya udah banyak? masih nunda apa belom dikasi?”

B:”ya belom aja Bu” dalem hati pengen gw semprot pake air dahhhh…


Ehem, gini ya tante, ibu, semuanya…

Mau saya punya anak, mau saya mau ngapain IT’S NONE OF YOUR BUSINESS.

Di dunia sehari-hari, kalo masih single ditanya kapan nikah? pacarnya mana? dan berbagai pertanyaan lain yang serupa tapi intinya “pasangan lo mana?”. Kalo udah nikah ditanya kapan punya anak. Kalo punya anak pertama, kemudian ditanya kapan punya anak kedua. Kalo ada pasangan yang cerai? pasti nanya kenapa kenapa dan kenapa? serta berbagai sentimen negatif lainnya. Seolah-olah semua kesuksesan perempuan diukur dari udah nikah apa belum, punya anak atau engga.  I was just thinking

“jadi perempuan itu beban sosialnya tinggi ya?!”

Kenapa jarang yang nanya kapan liburan lagi? Kapan mau buka usaha baru? Atau banyak pertanyaan yang menurut saya lebih positif dari sisi pendengar or maybe you can ask, pake lipstick apa Mbak? Warnanya bagus.. happy kan dengernya 🙂

I think judgmental people will criticize anything and everything they come in contact with. Well, I am not superwoman, still learning how to be a good wife, have problem like the others, and I don’t have time to listen toxic people like them.

Let’s move to another story,

I heard this story from my friend. Intinya si A dan si B, they married by accident (MBA). Kemudian yang cowok nikahin ceweknya, got a job, and live in Jakarta. Unfortunately, ternyata si cewek ga puas sama hidupnya, merasa capek dirumah sendiri, dan mau suaminya ikutan taking care of their house. Padahal yang cewek 100% at home. Okelah anggap aja mungkin bosen di rumah. Kemudian, si istri pengen balik ke kota asalnya, dari Jakarta sekitar 4 jam kalo normal ga macet dan dia mau suaminya visit tiap weekend. Sampai disini suaminya masih nurut aja.

After gives birth, si istri merasa capek lah, ini lah itu lah. Masih tetep merasa tidak puas. Merasa ortunya kurang bisa membantu, dia mau punya nanny. Telpon suami ketika lagi kondisi pulang kerja dan capek.  Si suami cuma jawab “kamu tu punya anak 1 aja kok kayanya udah repot banget si…”. Denger jawaban begini, yang istri merasa ngga dihargai lah, ngga diperhatiin lah, dsb. Ujung-ujungnya pengen divorce.

What???? Saya yang denger cuma ngakak. How come dari problem minta nanny berujung pada divorce. Yang terlintas di otak saya cuma

“MENTAL PRINCESS”

Aaaah.. but ngga cuma satu kok yang kaya begitu…. Banyaaak…

Ada juga yang sebelum nikah udah minta ini itu semua serba waaah…. Abis nikah bingung cicilan credit card yang ngga kelar-kelar. Menuntut calon suami memenuhi kebutuhan yang (menurut saya) agak diluar kemampuan. Kayanya kalo pake bedak bukan Channel bakal gatel-gatel rasanya. Hahahhahaha.. Spend money for fancy meal EVERYDAY, kalo makan di rumah rasanya bakal sakit perut kali ya…  Padahal gajinya di bawah 5 jt *btw this is the real story. Pathetic right??!!!!

So after had conversation with my friend. Kita menyimpulkan (but we’re not generalize), banyak ternyata orang-orang yang bermental princess.

They were born with golden spoon in their mouth, don’t know how to work, and demanding.

Ngga bisa hidup susah, high lifestyle, and

“LIVE BEYOND THEIR MEANS”

So Pathetic. Is it just me who think

“Why do So Many Woman are Obsessed with Princess or Queen? Should I blame Disney for this?”

*thanks buat beberapa komen yang udah masuk. I would like to clarify what do I mean by Disney princess here.

“Of course i am not blaming Disney in real life. In fact, thanks to Disney cause I learnt a lot, that princess is not always being spoiled, they are smart, tough and know what they want. But the problem is,,, still some individual in our society are used to being spoiled. They still don’t understand how to grow up as adult, irresponsible, and act like the real princess. Not Disney princess, smart and though one, instead they complain a lot for bad thing that happen in their life, easily offended by jokes, and always feel insecure”.

Some articles show that some parents calling their daughter with princess and it affect their daughter’s adulthood.   Artikelnya bisa dilihat disini atau disini.