*KPR = Kredit Pemilikan Rumah

Disclaimer : Tulisan ini dibuat hanya untuk sekedar berbagi cerita, sharing untuk temen-temen yang mungkin lg pengen beli rumah, lagi nyicil kpr or maybe sudah. Tidak ada maksud kepada pihak tertentu. Jika ada angka-angka, data yang tercantum juga merupakan supportive data untuk mendukung cerita dengan kondisi kota Malang.  So, please no offense ya untuk semua yang baca ini. Feel free to disscuss it with me. Ini cuma tulisan pribadi aja kok. Kalo saya bisa dapet feedback saya malah terima kasih maturnuwun 🙂

Jadi begini ceritanya…

Menjadi tua itu wajib tapi menjadi dewasa itu pilihan *halah ini jadi kaya iklan-iklan yang di tipi… basi buuuk…  But seriously, kali ini gue ngomong beneran.
Menjadi dewasa salah satunya menurut gue adalah menentukan prioritas hidup. One thing that we can do is calculating our spending. Spending di sini maksudnya mau ngapain sama uang yang kita miliki. Mau lo dapet uang dari bokap nyokap, gaji, suami, istri, warisan, menang lotre, menang gambling, ato menang poin dari Timezone. *Eh timezone ga ngasi duit ya kalo menang?

Oke whatever your source of money, intinya itu duit mau diapain?

Kalo ada yang nanya “kenapa sih gue suka banget posting tentang money money and money? Emang gw kerja di Bank or capital market sehingga mengetahui exactly perputaran money di indo?” Jawabannya “Kaga”. “Kamu matre ya?” Jawabannya “mm.. relatif, it depend on who is talking with me. Kl yang ngomong ga punya duit maybe, kl yg ngomong punya duit banyak ya mungkin ini cuma kaya butiran micin”. Dan gue juga bukan rentenir yang bingung nagihin utang orang tiap bulan? Yang ada gue malah tiap bulan have to pay the bill.

Nah lalu gue ini apa?
Kali ini thanks God gue belajar finance yang akhirnya mengubah cara pandang hidup gue menjadi lebih oportunis. Hahahaha.. *evil smile 😏😏
Maksudnya gue jadi lebih bisa memilih dan memprioritaskan apa yang terbaik buat hidup, terutama dalam mengelola keuangan yang baik.

Back to the topic anyway… Kali ini gue mau share personal experience yang terjadi sejak 3 tahun lalu, 2014. Gue masi jadi anak o’on yang awam dan ngga tahu banyak practicality di dunia perbankan. Kaya anak sapi ilang. Celingak celinguk kesana kemari.

Saat itu gue membeli sebuah rumah. Ralat : Bukan gue, tapi bokap membantu gue membeli sebuah rumah. Karena kalo gue sendiri belum mampu. Kemudian kita membayar DP (down Payment) yang jumlahnya sekian. Nah sisa kekurangan harga rumah tersebut, kita ajukan ke bank sebagai cicilan KPR. Mengajukan KPR ke bank prosesnya nggak gampang. Belum tentu semua bank bisa approve KPR yang kita ajukan. Oleh karena itu, interestnya akan disesuaikan dengan risiko yang kita miliki. Besarnya interest tergantung penilaian bank, dan bank akan melihat profile kita yang mengajukan kredit. Seperti pekerjaan kita, karyawan tetap/belum, tanggungannya apa, dan lain sebagainya. Intinya makin tinggi risiko yang kita miliki, maka bank menerapkan interest yg makin tinggi pula. Saat itu bank tersebut memberikan kpr ratenya sekitar 10.9% flat selama tiga tahun pertama kemudian sisanya float. Which is fine buat kita, karena memang pasarannya segitu. Singkat cerita setiap bulan kita nyicil 4 koma sekian juta. Selama 13 th. Nilai KPR yang diajukan adalah 375 juta. Pada saat itu kita memutuskan membeli rumah karena kenaikan harga properti di Indonesia trendnya naik terus, bisa 10-20% (bisnis.com).

Note *flat and float rate silahkan googling.

Sekedar informasi tahun 2017 (jawapos.com), harga tanah di Jalan Ijen tembus Rp 50 jt/m2. 2012-2016 Perumahan Permata Jingga harga tanah mulai kisaran 8-10 juta/m2. Jalan Kawi 5-7 jt/m2. Tapi ketika dijual di pasaran bisa sampai 25 jt/m2. Daerah Sengkaling saat ini sudah 3-4jt/m2. Padahal 3 tahun lalu tidak sampai setengahnya. Fantastis!!! begitulah kenaikan harga properti di Malang.

Back to my story..

Setelah 30 bulan berjalan, finally kita memutuskan untuk melunasi KPR tersebut karena keluarga gue (terutama nyokap, thanks Mom for this) punya prinsip anti hutang karena dalam islam hutang itu dilarang. Kalo ngga punya duit ya ga usah beli. Simple.
Akhirnya beberapa hari lalu gue mulai konsultasi kepada bagian marketing bank dan menanyakan berapa jumlah yang harus dilunasi.

Here’s the problem…

Setelah 30 bulan berjalan, dengan cicilan 4.5 jt  kita masih harus melunasi sebesar 333 juta.
Lah kok bisa?

Sekali lagi ya. Nilai KPR 375 juta. Dicicil selama 13 tahun. Cicilan per bulan anggap aja 4,5 juta, 3 tahun pertama flat sisanya float.
Oke, 375 jt- 333 juta = 42 juta. Ternyata guys, selama 30 bulan gue hanya membayar cicilan pokok sebesar 42 juta. Padahal angsuran per bulannya 4.5 juta.

Wait a minute, ada yang aneh? Yes!!!

Yang kita bayar 4.5 juta x 30 bulan = 135 juta kan? Iya. Tapi kenapa kita masih harus melunasi 333 juta?
Karena ternyata rincian 135 juta itu, 42 juta diantaranya adalah cicilan pokok dan 93 juta adalah bunga. Jger!!! Petir dan kilat menyambar, hujan turun, hati teriris pedih, menangis kaya kuntilanak  😭😭😭

Jadi selama 30 bulan ini kami membayar almost 100 juta buat bunga? Iya!

Oke. Kembali. 4.5 juta tadi breakdown nya gimana? Ternyata 3 juta sekian untuk bunga dan 1 jt sekian untuk cicilan pokok. Padahal tambahan biaya ketika di awal beli rumah adalah lo harus prepare  duit setidaknya 30-50 juta untuk ngurus notaris (tau gitu gw dulu sekolah hukum and gain more money 😎😎), administrasi bank, dan pajak pembelian.

Tarik napas dalam-dalam. Masih sulit menerima kenyataan. Gede ya bayar bunga. Setelah gw cari info sana sini, memang seperti itu lah KPR. Untuk cicilan di atas 10 tahun ya bunganya memang seperti itu. Bunga gede di awal tapi makin lama nilai bunga makin kecil. Namun yang agak balance tuh kalo mengajukan KPR dibawah 5 tahun. Bunga agak kecil tapi cicilan yang otomatis gede.

Gimana ya? Dilema kan? Mau nunda punya rumah tapi pengen, apalagi kalau udah berumah tangga. Nyicil KPR lha kok bunganya gede banget. That’s life bro. Makanya kalo kebetulan bokap nyokap lo ngebantu beli rumah/properti. Really thank to them. Karena nyicil KPR sendiri itu berat beneran. Buat temen-temen yang saat ini sedang nyicil KPR, acungin jempol!! Salut gue. Semangat bro sis, karena gue tau keringat elo mahal harganya. Terakhir buat temen temen yang belom kepikiran atau mungkin udah ada rencana nyicil kpr, maybe better budget hangout or travelling, hura hura hedon aga ditekan ya sis..

Yang cewe-cewe coba dihitung sekarang koleksi lipstik, baju, sepatu kalo di jadiin rupiah jadi berapa itu di total? Belum lagi biaya hang out cantik makan di kafe biar bisa posting di Instagram. Sedikit-sedikit tapi sering jadi ngga kerasa kalo udah banyak. Yang cowo-cowo juga sama. Biaya ngopi starbucksnya ayo coba dihitung atau mungkin biaya traktir pacar, mantan, yakin itu cewe uda mau nikah ama kamu? hahahaha.. *peace bro

In the end, gue semakin membuka mata bahwa ternyata beli rumah itu ngga semurah biaya party di dragonfly, X2, or immigrant, makan marugame udon kesukaan gue atau belanja online shop di instagram.

*Yuk sis cek ig kita murah banget banyak promo. Bla bla bla…

btw saya juga punya instagram : nitaulinnuha

*ujung-ujungnya promo instagram.. hahahha.. Bangkeeee…