Disclaimer : semua yang ada di tulisan ini merupakan pandangan pribadi dan subyektif dari sudut pandang penulis, tidak bisa di generalisasi. Perbedaan pengalaman, latar belakang, serta lingkungan setiap orang mungkin akan memberikan hasil sudut pandang yang berbeda. If you have different point of view, feel free to discuss it with me 🙂

Beberapa minggu lagi saya akan menikah. Rasanya gimana? Sante aja sih ya.. saya lebih deg-degan ketemu pembimbing karena tesis belum selesai dan kebetulan ditawarin sebuah project baru yang nilainya menggiurkan.. hahahaha

Tapi buat saya, wedding day sih dibawa santai aja. Kita lebih pengen dokumennya selesai, married, tanda tangan, dapet buku  nikah, kelar!! Saya ngga keberatan loh married dihadiri 10-20 orang aja. Malah itu plan saya dan calon suami sebelum akhirnya orang tua memutuskan untuk mengundang keluarga besar yang ternyata jeng jeng.. 200 orang. Itu cuma keluarga dan teman dekat orang tua ya.. belom dihitung teman biasa papa, mama, teman kantor, ini itu.

Maybe i’m worried about marriage document, prenuptial agreement, and life after marriage. But anyway saya disini mau nulis bukan mau narsis :p

Here we go….

Kalo saya lihat trend belakangan ini, kenapa sih anak muda or maybe their parents sekarang cenderung pengen nikah yang terlihat bling bling, menyilaukan dan fancy? Coba aja cek instagram bridestory, weddingku dan berbagai vendor pernikahan maupun group discussion di internet. Menggiurkan, enak dipandang mata. That’s why, jumlah make up artist, hair dresser, party planner, wedding organizer sepertinya semakin banyak  because they got benefit from this phenomenon.

contoh-dekorasi
Contoh dekorasi yang diambil dari bridestory.com

Berapa budget yang harus dikeluarkan anak/ orang tua untuk mengadakan sebuah wedding di Indonesia? Saya rasa 200-300 juta itu adalah nilai standar, rata-rata. Kalo kata orang jawa, rule of thumb nya :p

Lah padahal kalau dihitung dari sudut pandang gaji anak yang mau menikah mungkin akan seperti ini :

Misal si A (laki-laki) gaji 10 juta dan telah bekerja selama 5 tahun. Si B (perempuan) gaji 7 juta dan telah bekerja selama 3 tahun. Mereka berdua adalah anak rantau yang hidup di Jakarta. Perhitungan kasarnya nya adalah

A : 10 jt x 12 bulan x 5 tahun =  600 juta

B : 7 jt x 12 bulan x 3 tahun = 252 juta

Ini adalah gaji utuh belum dikurangi biaya hidup buat makan, transportasi dan keperluan lain. Pasangan ini juga belum memikirkan KPR, tabungan, investasi, dan lain-lain.

Oke, mari berfikir sedikit lebih detail. Katakanlah si lelaki hidup di Jakarta gaji 10 juta, biaya nge-kos 2 juta (anggap aja anak rantau seperti saya), biaya makan sebulan 2 juta (emang cukup??), lain-lain 1 juta. Si perempuan biaya hidup kurang lebih sama.

Akhirnya nominal yang bisa di save si lelaki hanyalah setengahnya atau sekitar 300 juta. Sedangkan yang perempuan bisa save money sekitar 72 juta.

Ini perhitungan kasar, mereka hanya focus nyari kerja, sedikit travelling, sedikit hang out. Tau sendiri biaya hang out di Jakarta lebih mahal dibanding kota lain.

Dan angka-angka tersebut tidak terpengaruh oleh present value of money. Maksudnya apa? Let’s make it simple, nilai 10 juta 5 tahun lalu belum tentu sama dengan 10 juta sekarang dan detik ini. Nilai ini dipengaruhi oleh nilai interest yang bergerak. Contohnya 5 tahun lalu 50 ribu udah bisa makan enak di restoran mahal di Jakarta, sekarang 50 ribu cuma bisa makan fast food standar di Jakarta.

contoh-wedding
Contoh pernikahan yang umum dilakukan di Indonesia dengan mengundang ratusan atau bahkan ribuan orang. *foto diambil dari instagram salah satu vendor pernikahan di Malang

Nah, jadi besarnya biaya wedding kan makin lama makin naik tuh, karena sepertinya jarang or hampir ngga ada tuh biaya catering tiba-tiba jadi turun; Padahal gaji kita meskipun terlihat naik, apakah nilai riil nya memang benar-benar naik?

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah tabungan yang telah dikumpulkan kedua anak ini sebesar 372 juta akan digunakan untuk membayar pernikahan yang sebesar let say 200 atau 250 juta? Yakiiin? Ga sayang tuh uang segede itu buat nikah?

Lah emang ngga nabung buat beli rumah, buat biaya jaga-jaga kalau ada apa-apa, buat buka usaha, buat pendidikan anak nanti, atau buat keperluan lainnya.

Solusinya adalah BI alias Bapak Ibu yang akan membantu biaya pernikahan anak =)

Nope, bukan itu maksud saya.

Memang background kondisi ekonomi setiap orang berbeda, tidak bisa di samakan. Ada yang menganggap biaya 200 juta itu kayak upil, saking kecilnya. Ada juga yang menganggap besar. Tapi yang saya ingin sampaikan disini adalah biaya pernikahan semakin hari semakin mahal. Tahun 2017 di Malang, dengan jumlah 80 undangan di sebuah restoran, tanpa band, tanpa dekorasi mewah, baju dan make up standar di kota biayanya sudah lebih dari 50 juta. Itu dengan kondisi standar ya alias low budget wedding .

Kebetulan calon suami saya adalah foreigner. Ketika saya mengatakan bahwa pada umumnya (yang sering saya temui) sebuah resepsi pernikahan mengundang lebih dari 500 tamu undangan menjadi hal yang umum, calon suami saya hanya mengatakan apakah kita ingin menikah dengan cara yang sama? Next question adalah kamu mau nikah apa mau bikin konser sih? Berapa gaji rata-rata orang Indonesia pada umumnya?

Bagi foreigner, mengundang 100 orang saja sudah terlalu banyak karena mereka merasa bukan selebritis yang ketika menikah harus di rayakan secara besar-besaran dan masih banyak keperluan lainnya. Apalagi ketika seseorang memutuskan untuk menikah, maka orang tua tidak akan membantu sama sekali biaya anak, hal ini menjadi tanggung jawab anak sepenuhnya 100%.

Sebenarnya menikah itu tidak terlalu mahal, yang bikin mahal adalah gengsinya.

Ketika saya mengatakan UMR Jakarta 2016 masih dibawah 4 juta Rupiah, pasangan saya hanya mengatakan mengadakan pernikahan besar adalah non sense karena memang ketika dihitung, akan sulit mencapai angka-angka ratusan juta untuk menutup biaya pernikahan yang besar.

Jadi dengan kondisi anggaplah dua anak muda tadi yang saya sebutkan diatas, sepertinya lebih baik kalau mereka mengadakan pernikahan kecil-kecilan sesuai budget mereka. Toh menikah dengan budget dibawah 100 juta bukan berarti pernikahannya tidak bagus kan?

Menurut saya kualitas pernikahan juga tidak ditentukan oleh besarnya budget wedding day. Kalau cuma sekedar ingin mengadakan fancy wedding, tapi kemudian bingung berhutang sana sini dan bingung untuk melunasi, sepertinya sangat disayangkan. Lebih baik pernikahan sederhana tapi honeymoon setiap bulan. Mark Zuckerberg aja menikah dengan mengundang 50 orang di halaman belakang rumah. Padahal tajirnya ngga usah ditanya. Last point, menikah secara sederhana bukan berarti tidak mampu. Menikah boleh sederhana tapi siapa tahu nilai tabungan dan investasinya bernilai ratusan juta or even milyaran. Remember, people have tendency to look at the surface. So whatever you do good or bad, people will always have something negative to say about you, and that’s life 🙂